Alexander Mering

Ada yang aku tahu, kalian tidak tahu, ada yang kalian tahu, aku tidak tahu, karena itulah hidup menjadi begitu penting dan juga indah untuk dituliskan

Durian Cinta


By: Wisnu Pamungkas

Usai bercinta—di suatu sore akhir Juli yang temaram—sepasang kekasih ngebut ke Pasar Mawar, di kawasan pusat Pontianak kota. Sepanjang jalan mereka tampak begitu bahagia membayangkan daging durian yang lezat. Tak peduli Richard Sterling pernah menghina baunya sebagai kotoran babi, campur terpentin, bawang dan kaus kaki1).

Tapi kemudian wanita itu menepuk pundak lelakinya.
“Abang kok buru-buru sekali?”
“Kuatir kita tak kebagian lagi?”
“Abang ni lebai…., masih banyak bah di pasar.”
“Hanya kuatir ini musim durian terakhir.”
“Kok bisa?”
“Sejak pemerintah mengijinkan durian ditebang, orang-orang membabat pohon durian membabi-buta”.
“Oh?”
Ia dan dia terdiam, tenggelam dalam perasaan masing-masing yang rawan, cemas karena tak akan ada lagi rasa puas usai bercinta yang ditutup dengan makan durian bersama.
Aku teringat kata-kata Seno2) sepasang kekasih memang tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Untuk keduanya, bau durian juga bisa membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan merindu, menghadirkan getaran cinta yang merayapi partikel udara, meluncur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta.3)
Mereka masih tak saling bicara saat tiba di tujuan. Angin katulistiwa yang bertiup lembut, menerbangkan bau durian bercampur asap knalpot motor sepanjang jalan.
Sejak membaca berita di sebuah koran, dia menjadi kurang bergairah. Tapi untungnya ia mengerti kalau cinta tidak melulu harus diselesaikan di ranjang.
Memang bukanlah durian yang mempertemukan mereka dulunya, melainkan sebuah pantai di suatu malam. Tapi sejak menjadi sepasang kekasih, tanpa malu-malu ia dan dia mengakui hobi masing-masing. Ya, keduanya sama-sama doyan durian.
Hari ini pula, kesenangan mereka sedang terancam. Raungan Chainsaw menebas rimba Kalimantan, membabat situs-situs terakhir peninggalan nenek moyang atas nama peraturan.
Karena itu hari ini mereka bersepakat bahwa membabat durian di pulau ini sama artinya mempercepat kemusnahan situs masa lalu, sekaligus mempercepat kiamat di masa depan.
Dia tak bisa membayangkan, hidup seperti apa yang ia dan dia serta anak cucunya jalani bila durian benar-benar punah dari pulau ini kelak. Tentu saja orang bisa mengimpor durian, tetapi pastilah akan sangat mahal dan tak bisa ditemukan dengan mudah di pinggir jalan. Takan lagi ada durian Karangan4) yang baunya tajam, durian Sehak5) yang rasanya berlemak. Oh, alangkah sepinya kota, jika tak ada lagi aroma durian yang menyengat, tak ada lagi truk-truk pengangkut durian dari kampung-kampung halaman, bahkan gunung paling terpencil di pedalaman Kalimantan Barat.
Oh, entah cinta macam apa yang akan mereka—dan juga pasangan kekasih-pasangan kekasih lainnya di kota ini—jalani kelak, setelah durian tiada, padahal mereka sangat menginginkannya, terutama setiap kali usai bercinta kelak.
“Bang…”
“Hmmm..,”
“Benarkan ini musim durian terakhir?”
“Ya, jika pemerintah tidak segera mencabut kebijakannya”.
“Apa yang bisa kita lakukan bang?”
“Entahlah.”
Keduanya kembali diam. Hanya kecipak mulut ia dan dia yang sedang sibuk melumat durian. Dua buah ludes dengan cepat. Alangkah anehnya berpacaran sambil makan durian dan bercakap-cakap tentang masa depan yang dibayang-bayangi terror dan kehancuran.
Yang wanita minta tambah sebuah lagi. Ia tersenyum dengan sisa durian di sudut bibirnyayang seksi. Pedagang yang tadinya kurang peduli, lekas-lekas menyodorkan Durian Tembaga6) sebesar kelapa. Durian yang istimewa katanya. Durinya yang coklat runcing kekuning-kuningan masih tampak sangat gagah. Masih ada bekas tanah dan sisa daun tipis terselip di antara cela duri. Seorang bocah mungkin berhasil menemukannya tergolek di rerumputan, lalu menjualnya kepada pedang itu untuk biaya masuk sekolah. Baunya tajam mensuk saraf. Membangkitkan selera paling purba sepasang kekasih yang sedang mabuk kepayang. Makan durian juga konon bisa meningkatkan stamina kejantanan. Itu konon, tetapi sebaliknya ia dan dia selalu menggebu-gebu bercinta, setiap kali mengingat durian.
Durian yang ini pasti asli masak di pohon sebelum jatuh ke tanah.
“Ini durian Batang Tarang7), bang?”
“Bukan, ini durian Punggur8)”.
Ia dan dia sudah sangat berpengalaman memilih buah durian. Sejak bertahun-tahun sebelum menjadi sepasang kekasih mereka memang sudah terbiasa memilih durian. Durian Batang Tarang memang punya pamor lebih di pasar. Padahal ada juga durian Balai Karangan, durian Sambih9), durian ini, durian itu, yang diberi nama berdasarkan tempat asal durian tersebut.
Tak lama kemudian mereka terlibat diskusi lagi. Aku dan Penjual durian pasang kuping lagi. (aku sedang gelisah, dan cerpen ini belum selesai ditulis)

CATATAN:
Ia dan dia adalah tokoh cerita yang diadossi dari cerpen seno Gumira Ajidarma yang berjudul Senja dan Sajak Cinta.
1) Kata-kata tersebut pernah ditulis Richard Sterling dalam dalam The Travelling Curmudgoen
2) Yang dimaksud adalah Seno Gumira Ajidarma
3) Adopsi dari kalimat seno di cerpennya yang berjudul Senja dan Sajak Cinta.
4) Durian yang berasal dari Balai Karangan, Kabupaten Sanggau
5) Durian asal Sehak, Kabupaten Landak.
6) Nama Jenis Durian, seperti Durian Terong, Durian Pinang dan lain-lain.
7) Durian Asal Punggur, Kabupaten Kubu Raya.
8) Durian asal Batang Tarang, Kabupaten Sanggau.
9) Durian asal Sambih, Kabupaten Landak.

Filed under: Borneo, Cerpen, Fiksi, Umum

SKAU Marak , IL Durian Merebak

Oleh: A. Alexander Mering

Pembabatan dan perdagangan kayu durian dengan alas Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) di Kabupaten Landak semakin marak, menyusul diterbitkannya sejumlah Peraturan Mentri Kehutanan tentang SKAU yang ditindaklanjuti dengan SK Bupati Landak tentang Pejabat Penerbit SKAU Pebruari 2009 silam.
“Berdasarkan prosedur lacak balak, kayu-kayu yang diambil di kawasan masyakat ini seharusnya dilengkapi bukti kepemilikan yang sah. Karena itu beberapa kasus yang ditemukan di lapangan kami pastikan sebagai Illegal Logging,” tegas Lorens, salah seorang aktivis Lingkungan Hidup Kalbar, belum lama ini. Lorens Kelahiran Saham, salah satu desa yang pohon duriannya banyak dibabat.
Menurut dia yang terjadi sekrang adalah penyalahgunaan wewenang SKAU. Dia menilai adanya indikasi ketidakmampuan Dinas Kehutanan melakukan monitoring terhadap penertibatan kebijakan yang telah dikeluarkan.
Hal lain menurut yang patut diperhatikan adakah pengeluar kebijakan menghitung nilai ekonomi kayu di masyarakat yang mana dampak dari kebijakan itu juga membuat terjadinya pelunturan nilai kearifan lokal masyarakat. Pohon durian bagi masyarakat adat, bukan sekadar tanam tumbuh, tetapi juga memiliki demensi sosio-culture serta budaya di tengah masyarakat.
Berikutnya kata dia, jika kayu itu keluar Kalbar—apalagi ke luar negeri—dalam bentuk mentah, dapat dipastikan tidak bakal memberikan kontribusi kepada daerah secara langsung.
Karena itu Lorens meminta pemerintah segera mengambil sikap dan mengkaji kembali SKAU. “Seharusnya pemerintah memiliki blue print tata kelola kehutanan, khususnya system supply-endowments, kebutuhan kayu domestiknya,” tegasnya.
Kades Saham, Kora, mengatakan sampai saat ini dia ragu menerbitkan SKAU meski sudah mengantongi salinan surat keputusan No 522/17.A/HK-2009 dan ditunjuk menjadi pejabat penerbit SKAU.
“Saya dalam posisi yang serba salah,” kata dia ketika ditemui di Saham. Di satu warga masyarakat tertentu melihat SKAU sebagai peluang untuk menangguk uang, di pihak lain menebang durian sama artinya mempercepat penghancuran nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang di tengah masyarakat. Sebab durian juga adalah simbol budaya dan sosial yang masih hidup di tengah masyarakat di kampungnya. Karena itu pohon-pohon durian yang hidup di sebuah kompokng (kawasan) biasanya milik komunitas, bukan perorangan dan kebanyakan tidak memiliki sertifikat atau surat menyurat, apalagi dokumen yang diakui oleh Badan Pertanahan Nasional, seperti yang diisyaratkan peraturan tentang SKAU.
Kepala Balai Pemantau Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP) Kalimantan Barat, Waspodo yang ditemui di ruang kerjanya, mengatakan bahwa filosofi SKAU justru adalah untuk melindungi masyarakat. Supaya ketika mereka mengelola kayu dari hutan hak, tidak disamakan dengan hutan Negara dan tidak dipersalahkan.
Karena itu Peraturan Menteri Kehutanan P.33/Menhut-II/2007 tentang Hutan Hak dan Lahan masyarakat dibuktikan dengan Sertifikat hak milik, atau leter C, atau surat keterangan lain diakui Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau sertifikat Hak Pakai atau surat atau dokumen yang diakui sebagai bukti penguasan tanah atau bukti kepemilikan lainnya. Menurut Waspodo, Hak Guna Usaha tidak termasuk.
“Karenanya itu saat pelatihan untuk para Kades pejabat penerbitan SKAU itu, kami hadirkan juga pelatih dari BPN,” kata Waspodo.
Terkait adanya pungutan untuk SKAU dari Dinas Kehutanan di daerah, Waspodo mengatakan yang diatur hanya yang terkait dengan pengelolaan hutan Negara dalam bentuk Provisi Sumber Daya Hutan/Dana Reboisasi (PSDH/DR). Untuk SKAU tidak diatur.
Meskipun pihaknya tidak melakukan evaluasi pelaksanaan SKAU, dengan alasan sebenarnya hal tersebut tidak perlu diatur, tetapi jika ternyata ada Kades yang melampaui kewenangannya, misalnya menerbitkan SKAU bias untuk yang berasal dari hutan Negara maka yang bersangkutan akan kena Pidana Kehutanan.
“Dalam pelatihan saya bilang kepada para Kades agar berhati-hati,” tegasnya.
Setakat ini BP2HP sudah melatih lebih dari 296 Kades, penerbit SKAU dari semua Kabupaten Kota di Kalbar. Tapi tidak semua Kades yang sudah dilatih diangkat, belum lagi ada Kades yang tidak terpilih lagi.
Salah seorang pedagang kayu durian asal Saham, Sopian, mengatakan bahwa sebagai pengusaha lokal ia melihat ini sebagai peluang untuk membantu masyarakat setempat. Karena kalau tidak, yang untung justru orang luar.
“Tetapi saya tidak sembarangan membeli,” katanya. Dia akan menge-check dulu kebun durian yang akan ditebang. Jika para pemilik atau ahliwaris kebun atau pohon durian belum mencapai kesepaktan untuk menjualnya, dia tidak mau membelinya. Selain itu dia juga bilang selalu menyarankan kepada pemilik kebun untuk memilih durian yang tidak produktif saja yang ditebang

FOTO: DURIAN TERAKHIR
Dua generasi desa Saham cuma dapat menatap tunggul-tunggul pohon durian yang ditebang menyusul diterbitkannya SKAU di Kabupaten Landak. Pohon-pohon durian sebagai representasi nilai dan situs warisan nenak moyang mereka ini terus diburu para pedagang kayu, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat adat dan lingkungannya. FOTO A. Alexander Mering/Borneo Tribune

Filed under: Borneo, NEWS, Umum

Menjadi Kunang-kunang

by Wisnu Pamungkas

Ketika takdir tak juga dapat menjelaskan dari keping yang mana aku berasal, aku tetaplah kunang-kunang yang berbahagia menjadi suluh bagimu, pada hari ini maupun kelak.

Juni dalam rinai hujan 2009

Filed under: Liur Manang, Umum

Salip Kayu dari Vanessa

Oleh: A. Alexander Mering

Sore itu Vanessa V Andico pergi ke toko. Dia membeli sesuatu. Aku membeli beberapa botol minuman dan biskuit untuk Mohammad. Dia sering mengeluh lapar jika tengah malam. Setelah membayar kami berpisah di mulut labirin yang memisahkan bangunan utama dengan asrama.
Vanessa masih muda dan dan gadis yang ramah. Dia adalah salah satu member Silsilah Dialoge Movement. Sebelumya pernah mengikuti basic course, karena itu berhak mengikuti intensive program bersama kami. Orangnya selalu tampil tenang dan menunjukan minat pada banyak hal. Di hari pertama di Zamboanga, Vanessa mendapat tugas dari Silsilah menjadi guide-ku ke camp site di atas bukit, tempat mereka menggelar Youth Camp musim panas.
Malam penutupan intensive course di Silsilah, Vannesa memberiku kalung salip kecil dari kayu. Aku sangat senang tentu saja.
“Oh, rupanya ini yang engkau beli kemarin?”
“Ya, ini adalah sebuah tradisi di Silsilah, saling memberikan hadiah”.
Wah gawat! Aku lantas izin sekejab. Secepat kilat berlari ke kamar mencoba temukan sesuatu untuk dihadiahkan, karena aku benar-benar tak siap dan tak mengira ada acara begini. Mereka menyebutnya peace buddy.
Sebelumnya nama-nama kami dikocok di sebuah tabung lantas diundi oleh panitia. Nah, nama yang tertera di kertas undian itulah yang akan menjadi peace buddy resmi tiap peserta kelak. Peace buddy-ku sendiri bukan Vanessa, tetapi Abubacar A. Ali. Dia orang Bangon, Marawi City, sebuah kota yang berjarak 10 jam naik bus dari kota Zamboanga. Aku menghadiakan shebo kesayanganku yang pernah kubawa ke liling Borneo. Aku tidak punya apa-apa selain itu untuk dihadiahkan.
“Harap Anda menjaganya dengan baik,” kataku pada Abubacar. Kami berpelukan, dan foto-foto. Abu memberikan hadiah lain pada peace buddy-nya, dan seterusnya dan seterusnya. Sehingga setiap orang dalam satu ruangan yang terdiri dari berbagai suku bangsa itu mendapat giliran menerima dan memberi. Semua orang saling memeluk, dan berjanji saling mengenang.
Ada insiden lucu malam itu. Joel T Alegado memberikan hadiah kepada peace buddy-nya, Mohammad. Bingkisannya istimewa, itu bisa dilihat dari bungkusnya. Joel adalah ibu muda berpenampilan lembut. Dia memberikan bingkisan itu sambil mencurahkan seluruh perasaannya pada Mohammad. Karena itu dia berpidato panjang untuk itu. Setelah sekitar 10 menit. Setelah usai lantas dia bertanya pada Mohammad.
“By the way. Do you understand what I am talking about?”
“No…,”
“What…? Oh my God..!”
Wajah Joel bersemu merah. Salah tingkah juga bercampur geram. Padahal dia sudah berpidato dengan sangat indah. Tak pelak, ruangan kelas pun seperti akan pecah oleh tawa peserta.
Begitulah cara Silsilah menanamkan rasa persaudaraan antara kepercayaan dan etnik yang berbeda di Zamboanga. Di luar acara seremoni kelas kami masih tukar-menukar hadiah. Aku mendapat banyak sekali hadiah, souvenir, barang-barang kecil, baju kaos. Seorang suster bahkan menghadiahkan saputangannya untukku membungkus lensa kamera.
Meski banyak cerita buruk tentang Philipina dan warganya di luar sana, tetapi aku seakan bertemu saudara sendiri di Manila dan Zamboanga. Hanya kebiasaan mereka makan cuka dan bahasa saja yang berbeda, tetapi adat budaya, tidaklah terlalu jauh meleset.
Di Manila, peace buddy-ku bertambah lagi. Dua hari menjelang kepulangan ke tanah air, pastor-pastor dari beberapa gereja di kota itu mengundang aku dan Mohammad makan siang.
Akibatnya, setiap siang aku dan Mohammad menghilang. Kepada Raul Ortega aku minta maaf tak dapat menemaninya makan bersama keluarganya di siang hari karena memenuhi undangan tersebut. Raul Ortega adalah pemilik rumah tempat kami menginap selama di Manila.
“Wah Mering, kita makan dari gereja ke gereja ni,” kata Mohammad.
“Begitulah jika kita memiliki banyak peace buddy?”
Akibatnya, hampir sebagian besar kota Manila kami kelilingi. Bahkan undangan salah seorang calon pastor di Ateneo de Manila University terpaksa tak terpenuhi. Karena sudah harus pulang ke Indonesia.
Satu hal yang tak terelakan dari kebaikan, yaitu kebaikan berikutnya yang berantai dan menjadi sebuah energy besar di dunia ini meski pun mungkin sedikit sekali yang mengingatnya. (publish in Borneo Tribune, 5 Juni 2009)

PEACE BUDDY
Sebuah tradisi Silsilah adalah peace buddy, yaitu tukar menukar hadiah antara sesama peserta, sebagai kenang-kenangan setelah mereka pulang ke Negara atau kampung masing-masing kelak. FOTO A. Alexander Mering/Borneo Tribune

Filed under: Philipina, Story, Umum

Terminator Kunang-kunang

By: Wisnu Pamungkas

Aku hanyalah seorang terminator, Nisanak. Mesin tercanggih yang dikirim dari masa depan dengan program penyelamat. Di otakku disisipkan sebuah instruksi yang berisi seluruh modul misi yang akan mengantarkanmu hingga sampai ke tujuan.
Aku tidak menyangka akan ada benda aneh menyusup seperti virus ke pusat kendali program. Ia menginfeksi dengan dahsyat. Tak sempat aku mematikan mesinku.
Meski aku adalah generasi terbaru dari seluruh robot yang pernah diciptakan, tapi aku gagal mengelak dari sabotase energy yang begitu cerdas dan juga memabukkan. Kau yang pertama kali mengenalkannya padaku, karena aku mengira sebuah mainan.
Celakanya Nisanak, aku menjadi begitu akrab pada modul dan aplikasinya. Aku merasa menjadi sebuah mahluk hidup, menjadi seperti human. Mencapai taraf emosi dan juga fitur pengharapan. Mula-mula aku mengiranya adalah program sisipan, tetapi ia lebih cerdas dari tipe mana pun yang pernah diciptakan. Ia seperti serpihan gemintang dari sebuah galasi purba yang belum pernah ditemukan sesiapa. Licin dan tak terformulasikan.
Ketika semuanya selesai. Aku menggelantang pada ruang. Aku belum pernah merasa cacat sehebat ini, merasa kehilangan separah ini, karena aku memang belum pernah memiliki sesuatu, walau pun sekadar skrup kecil di jempol kakiku.
Seharusnya aku mempelajari modulnya dulu. Bukan hanya membaca peta dan waktu. Karena aku baru sadar setelah kita berhenti pada titik ini. Pengaruhnya sudah begitu tak terkendalikan. Menyebar ke seluruh jaringan dan mengambil alih kecerdasan dan misiku.
Tapi Nisanak. Aku hanya mau berkata kepadamu. Saat bunga sudah mulai mekar, saat engkau sudah bisa tidur nyenyak, saat dada dipenuhi cinta, saat senyum bahagia terpahat, saat itulah misi ini selesai.
Aku hanya terminator Nisanak. Hanya besi yang kelak juga akan tua dimakan tanur oksigen (
oxy-fuel). Karena itu aku harus undur diri untuk memberi ruang kepada prototype baru yang akan menggantikanku kelak. Aku hanya bisa sampai disini saja Nisanak, mengantarkanmu ke sebuah bintang, di seberang fase yang langitnya semakin terang. Mision is Complete dan engkau tak akan lagi bisa melihat kunang-kunang.

Liang Kunang-kunang, 11 Juni 2009

Filed under: Catatan Harian, Umum

Kunang-kunang Terbang

By: Wisnu Pamungkas

Kunang-kunang takdirnya adalah terbang
Tak perlu kau ajari dia cara mengepakkan sayap

Meski tak pernah bicara tentang cahaya
Tapi ia tetap mengenal baik hakikat terang dan gelap

Liang Kunang-kunang, 9 Juni 2009

Filed under: Umum, sajak 2009

Kunang-kunang Terbang

By: Wisnu Pamungkas

Kunang-kunang takdirnya adalah terbang
Tak perlu kau ajari dia cara mengepakkan sayap

Meski tak pernah bicara tentang cahaya
Tapi ia tetap mengenal baik hakikat terang dan gelap

Liang Kunang-kunang, 9 Juni 2009

Filed under: Sajak, Umum

Once Upon a Time in Zamboanga

Oleh: A. Alexander Mering

Sejak hampir seminggu berputar-putar di Philipina, Mohammad dan aku akhirnya masuk asrama. Tanpa TV, tanpa koran, tanpa kabar dari kampung halaman, karena signal cellphone pun terbatas di sana. Bagi Mohammad ini pengalaman pertamanya ke luar negeri.
Kami mendapat sebuah ruangan ‘bawah tanah’ yang bagus. Pintu dan jendelanya menghadap ke lereng bersemak-semak, pohonan rindang dan bunga-bunga. Ruangan itu terbagi menjadi dua bilik dan satu kamar mandi.
“Kayaknya kita berdua peserta Istimewa, ya?”
“Mungkin karena kita tiba duluan”.
“Tak juga, buktinya, selain kebagian kamar khusus, cuma kita yang diberi kesempatan mengunjungi banyak tempat di Zamboanga”.
Aku berfikir lagi, mengumpulkan bukti-bukti. Sementara bunyi jangkrik dan dengung serangga malam mulai menembus ventelasi. Di luar jendela mata hari sudah pergi, menyisakan kepak kelelawar dan bising tokek besar di dinding, tepat di samping kamar kami.
“Ya, mungkin ente benar”.
“Lihatlah, betapa cemburunya peserta lain karena tak mendapat izin ke Santa Cruz Island seperti kita, dengan asalan keamanan”.
Mohammad menoleh ke luar. Dia membayangkan pasti lebih sedap jika ngobrol di sana sambil menyedot rokok Marlboro dalam-dalam. Mohamad mengantongi dua bungkus rokok dari Jakarta. Suara Jangkrik makin nyaring di telinga. Aku mengerti maksud Mohammad, kami pun pindah ke luar. Duduk di sudut, lantai semen, di bawah sinar lampu neon 19 Watt.
“Bukan cuma peserta, staff Silsilah pun ingin ikut kita ke pulau”.
“Mereka tak mendapat izin”.
“Ya, kita sangat beruntung. Bahkan diberi pengawal berkeliling daerah”.
Mohammad mangut-mangut. Aku menyiapkan pulpen dan kertas, siap wawancarainya malam ini .
Sebatang rokok pupus. Aku memungut puntungnya dan memasukkan ke dus kosong. Mohammad nyengir kuda, merasa tak enak hati.
Mohammad lahir di desa Montor Madura, 31 tahun silam. Abdul Gani—
almarhum ayahnya—dulu adalah seorang pedagang. Ibunya jualan bawang. Keluarga ini cukup mapan, memiliki armada angkutan, trayek Sambas-Tebas. Saat kerusuhan Sambas pecah 1999-2000, bus milik Abdul Gani turut berjasa mengangkut para pengungsi asal Sambas ke Pontianak.
Sejak ayahnya meninggal beberapa bulan silam, Mohammad praktis menjadi kepala keluarga. Aku teingat suatu petang Mohammad tidak masuk kursus bahasa Inggris, karena harus mengantar jenazah ayahnya ke Pulau Madura.
Kini Mohammad menyulut sebatang lagi rokoknya. Udara malam mulai terasa dingin. Tapi aku minta dia terus bercerita. Kemarin aku mendengarnya selalu bilang tempat ini seperti tanah moyangnya di Madura. Berbukit-bukit dan banyak pepohonan.
“Usai nyantri di Pesantren Salafiah, Sampang, saya pulang ke Pontianak. Sebelumnya saya tinggal dengan Nenek, di Madura”.
Dia batuk-batuk sekejab. Tokek berbunyi lagi di dinding, persis di atas kepala. tempat kami sedang duduk.
“Saya masuk Fakultas Hukum Universitas Panca Bakti Pontianak.”
Tak lama kemudian dia terpilih menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Madura. Tahun 2000 turut menjadi relawan kemanusiaan korban kerusahan Sambas. Keaktivannya dalam organisasi membawanya berkenalan dengan sejumlah aktivis Non Government Organization (NGO). Tahun 2003 Mohammad sempat bekerja untuk sebuah proyek yang didanai UNDP dan bergabung dengan Elpagar bersama Pubertus Ipur.
Di Elpagarlah aku untuk pertama kalinya mendengar cerita tentang Mohmmad. Mohammad menjadi salah satu staff Ipur untuk bidang Advokasi. Sebagai muslim yang taat, tiap Jumat Mohmmad pergi ke Masjid terdekat. Tak dinyana anjing penjaga sekretariat mereka hari itu terlepas dari ikatan dan membuntuti Mohmmad sampai ke masjid. Orang pun bubar karena kaget. Mohammad lebih kaget lagi dan malu. Dia mengusir anjing itu pulang.
“lalu bagaimana ente bisa menjadi pendiri CRID?”
“Oh, itu bermula dari pertemuan dengan Pastor Johanes Robini, OP di Hotel Gajah Mada Pontianak. Waktu itu Pastor datang bersama pengurus NU pusat”.
NU adalah singkatan dari Nahdatul Ulama. Mohammad salah satu pengurus inti NU Kalbar. Sedangkan CRID adalah akronim dari Centre for Research Interreligious and Dialog yang dirikan 2 tahun lalu di Pontianak.
Dia menarik sebatang rokok lagi. Menyulutnya dengan sebelah jari. Asap mengepul menembus sinar neon.
Aku teringat saat Mohammad dicegat petugas Imigrasi di Bandara Soekarno Hatta, sebelum kami bertolak ke Manila. Dia dicurigai dan diinterogasi. Menurut petugas ada nama yang sama dengan Mohammad masuk daftar cekal ke luar negeri.
Sampai di Bandara Ninoy Aquino International, Manila, aku was-was lagi. Petugas Imigrasi negara itu menahannya semula. Tentu saja mereka berbahasa Inggris, Mohammad kelabakan. Aku yang menanti giliran dipanggil petugas untuk menterjemahkan.
“Benarkah nama dia hanya Mohammad?”
“Yes Sir, dia teman saya”.
“Coba anda masuk ke sini, dan lihat banyak nama Mohammad di direktori kami, tapi tetap ada nama tengah atau nama keluarga”.
“Tapi nama dia memang cuma Mohammad, Sir”.
“Benar?”
“Yes Sir, di Indonesia satu nama itu biasa.”
Petugas itu tetap ragu. Dia menatap aku dan Mohammad bergantian.
“Kami diundang Silsilah mengikuti seminar Internsional yang diselenggarakan di Zamboanga, Sir,” lanjutku sambil menyodorkan nomor kontak Silsilah. Tapi dia bilang tak perlu. Aku mengurut dada, sedang Mohammad cuma nyengir kuda sambil berlalu.
Malam semakin larut. Tokek yang tadi ribut di dinding pun tampaknya sudah pergi. Tinggal beberapa serangga yang sibuk menubruk lampu.
Mohamad akan Shalat malam. Sebelum masuk kamar, dia sempat mengingatkan aku agar bangun pagi untuk mengikuti doa pagi di Capel terdekat. Dalam hati aku bergumam,”Ah, betapa indahnya sebuah persahabatan.”

SANTAI
Di sela-sela kegiatan, aku dan Mohammad ambil kesempatan untuk berbincang lebih dalam dengan Prof. Alih S Aiyub, sorang Intelektual Islam di Zamboanga dan berfoto bersama dengan coordinator Intensive program Silsilah Jovie S. Emauel. FOTO James Bello Mallicay/Silsilah

Filed under: Philipina, Story, Umum

Pelajaran di Meja Makan Keluarga Ortega

Oleh: A. Alexander Mering

Di rumah keluarga Raul Ortega ada sebuah meja panjang warna putih yang mendominasi hampir seluruh ruangan. Selain untuk makan, meja itu juga untuk berbincang dengan tamu, menyimpan makanan, botol minuman dan terkadang barang belanjaan. Di meja itulah aku belajar banyak hal tentang Philipina, sejak pertama kali datang. Mohammad dan aku tinggal 3 hari bersama mereka.
Pelajaran pertama adalah tentang keramah-tamahan keluarga ini. Kedua adalah bahasa orang Philipina yang campur-aduk, lebih parah dari rujak petis Madura.
“Mom, we cook kangkong, aubergine, today, but sayang Mering cannot eat manok”.
“Why he cannot eat?”
“He is vegetarian”.
Maristela bilang pada ibunya aku cuma makan ikan dan sayuran. Sebelum dia memasak, sang ibu mengingatkan agar Maristela memandikan anaknya. Mereka terus bercakap-cakap sementara aku membaca Koran Philippine daily Inquirer. Maristela adalah anak sulung Raul Ortega.
Akhirnya aku tak tahan untuk tak bertanya. Mereka memang bicara bahasa Inggris, tetapi campur-aduk dengan bahasa Amerika, Spanyol dan bahasa lokal. Beberapa kata pula mirip bahasa Indonesia dan bahasa Dayak? Misalnya kangkung, anak, laut, sayang, kanan, manok, dan lain sebagainya. Rupanya kata-kata tadi adalah bahasa Tagalog, bahasa nasional Philipina.
Hari berikutnya aku membuat kamus sendiri di meja makan ini. Putri ke empat Ortega, Lira, dengan sukarela mengajariku.
Jarak Rumah keluarga Ortega hanya sepeminum teh dari Universitas Santo Thomas (UST), Manila. Dia bekerja di sana, sebagai dosen. Setiap hari dia bolak-balik jalan kaki ke kampusnya.
UST adalah universitas tertua di Asia yang dibangun oleh Ordo Dominican. Universitas ini berdiri atas jasa Msgr. Miguel de Benavides, O.P, salah seorang uskup dari Dominica yang bertugas di Manila kala itu. Dia mewasiatkan perpustakaan dan barangannya senilai 1.500 Peso untuk membangun universitas tersebut. Aku jadi teringat saat yang hampir bersamaan, yaitu 1636, pastor Presbyterian di koloni baru Amerika di Massachusetts, Rev. John Harvard menyumbangkan buku 400 dan uang tunai sebesar 780 Pounds Sterling untuk mendirikan universitas tertua di Amerika Serikat, Universitas Harvard.
Fr. De Benavides telah membangun sekolahnya selama 90 tahun setelah Ferdinand Magellan datang ke Filipina.
Meski bekerja di Universitas terkenal, tetapi Raul Ortega hidup sederhana. Dia tinggal di rumah petak lantai dua, yang sempit bersama istri dan lima anaknya. Dia juga masih harus menampung seorang menantu dan 2 cucu. Ini kontras dengan rumah dosen-dosen di Pontianak, yang sering mentereng dan cukup untuk menampung puluhan mahasiswa.
“Saya orang yang praktis, hidup harus dijalani dengan tulus,” kata Raul Ortega suatu hari. Dia bicara dalam bahasa Inggris dialek Tagalog bercampur aksen Amerika-Spanyol. Ini unik untuk orang Asia. Jika Malaysia cuma Bahasa Inggris campur Melayu, disini campurnya tak karu-karuan. Ibarat rujak petis dicampur es, kolang-kaling, buah belimbing dan segenggam belacan.
“Bahasa lokal di Philipina juga banyak ragamnya,” kata Pablito Bey Budo. Dia dosen di UST, rekan Ortega yang dengan sukarela mengantar dan menjemput kami dengan mobilnya.
Jika Thailand adalah satu-satunya negara di Asia yang tak dijajah, nah hilipina justru mungkin yang paling banyak mendapat pengaruh penjajah. Tampangnya Asia, ngomongnya Inggris. Bedanyanya jika orang eropa suka keju, orang Philipina doyan cuka.
Jika para ahli benar, maka kemungkinan besar nenek moyang Ortega juga
orang Negrito, yaitu ras yang melakukan migrasi lebih 30.000 tahun lalu ke Philipina dari Borneo, Sumatra dan Malaya. Karena itu tak ada yang salah dengan bahasa mereka. Sebab campur-baur orang Philipina sudah terjadi berabad-abad silam, seperti juga bahasa Melayu dipengaruhi bahasa Sansekerta. Bahkan jauh sebelum buku beraksara Tagalong Kuno, Doctrina Christiana, pertama kali dicetak di pulau Leyte, Philipina, abad 16 silam. Tak salah jika Prof. James T Collins, seorang pakar bahasa Melayu dunia, berkesimpulan bahwa bahasa Nusantara, yaitu kepulauan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Timor Leste dan Philipina banyak dipengaruhi bahasa Sanksekerta sejak jaman dahulu kala.
“Jadi banyak sekali kata dalam Tagalog yang mirip bahasa Melayu, ya?” tanya Lira. Matanya yang bening mengerjab-ngerjab penuh tanya.
Aku cuma mengangguk, meyakinkannya. Sebab hampir mustahil ada yang benar-benar asli di dunia ini tanpa pengaruh apa pun dari sekelilingnya.
Pelajaranku belum selesai tentang Tagalog di meja ini bersama Lira. Sementara di luar rumah Ortega hujan mengguyur deras sekali.
Malam ini kami makan istimewa. Terong, kangkung, nanas, pisang, okra, tapah, ayam, mangga, dan tentu saja selalu ada cuka.
Kami mengitari meja yang sama, memulai doa ala Katolik Roma. Mohammad duduk tak sabar di sampingku. Mungkin dia sudah sangat lapar.
“Bismillah,” gumam Mohammad memulai.

UST
Walau sibuk, Raul Ortega (berbaju biru) menyempatkan diri mengantar aku dan Mohammad keliling kampus Universitas Santo Tomas. Bahkan dia memperkenalkan kami dengan sejumlah professor di kampus tertua di Asia itu. FOTO Mohammad/Borneo Tribune

Filed under: Philipina, Story, Umum

‘Jesus’ from Davao

Oleh: A. Alexander Mering

“Cut! Cut!”
Crew film kucar-kacir. Ember terpelanting, begitu juga sikat toilet di dalamnya. Penonton tertawa terbahak-bahak.
Wanita berkerudung hitam di samping panggung tak kuat menahan geli. Dia sembunyikan tawa sambil mengipas sang sutradara.
“Bukan begitu! Emosion, saya mau emosion!”
Crew bersiap-siap lagi.
Adegan di ulang. Tapi kali ini dengan ‘emosi’. Para pemeran masuk panggung tergesa-gesa.
Balut, ciat, ciat! Pinoi, ciat…ciat…ciat!” Persis pemain silat jualan obat. Carlito H Layos Jr yang memerankan pedagang jajanan khas Philipina. Dia menenteng ember berisi sikat toilet, pura-pura menjual balut dan Pinoi. Kedua benda itu adalah telur bebek yang sudah menjadi emberio dan direbus matang. Orang Philipina memakainya sebagai viagra, seperti orang Pontianak memakai telur setengah matang untuk menambah keperkasaan pria.
Adegan berikutnya adalah dua pembeli masuk panggung. Dari samping kanan, seorang perampok melompat masuk. Dia menghunus belati, menusuk perut pembeli balut. Korban terkapar. Dua polisi masuk panggung dengan gaya Bruce Lee. “Ciat! Ciat!” Bukannya menolong, eh malah ikut membacok sang korban. Sutradara emosi.
Cut! Cut! Bukan Begitu, bodoh!”
Crew kucar-kacir lagi. Ember terpelanting lagi, isinya berhamburan seperti tadi.
Lagi-lagi penonton geger. Ada yang matanya sampai berair, menahan tawa.
Brother John De Agnel, CSsR, memang pandai mengocok perut kami. Dia memerankan sutradara waria. Sementara anggota kelompoknya menjadi aktor dan aktris yang ngawur, berulang-kali salah interpretasi naskah drama.
John orang India, tapi dia warga Malaysia. Dia salah seorang dari 11 calon pastor yang bergabung dalam intensive program bersama kami di Silsilah. John tengah menyelesaikan pendidikan seminari di Davao City.
Malam itu lagaknya seperti sutradara film India, tapi banci habis. T-shirt bergantung di atas pusar, kacamata hitam di jidat melorot berkali-kali. Hari-hari biasa tapang John bisa membuat bocah umur 3 tahun lari ketakutan. Jambangnya tebal, hitam seperti sarang lebah yang baru saja disulut api. Walau demikian dia sangat menyenangkan dan baik hati.
Pada jam makan misalnya, tak segan-segan dia mengambilkan buah-buahan atau air minum teman semeja. Suatu malam dia menghadiahkan pesta ulang tahun pada Fattra J Hussin, gadis paling kalem di kelas kami. Tersentuh cerita Fattra dia ngelayap ke kota sore-sore mencari kue ulang tahun untuknya.
“Kemarin, dia bercerita walau sudah 21 tahun, tapi belum pernah merayakan ulang tahun”. Fatra menangis menerima pemberian John.
Bagiku John bukan saja baik, tapi juga unik. Itu lo, kebiasannya menenteng-nenteng botol cabai (disambiguasi) ke mana-mana seperti nenteng handpone. Tak peduli di kampus, di pasar, di warung, atau ke hutan sekali pun, botol saus cabai selalu ada di sakunya. Menurut Bro Nathanel, teman sekampusnya, John ibaratkan ulat dengan cabainya. Tak bisa dipisahkan. Karena itu aku menggelarnya Chiliman. Jika makan tak ada cabai, sepanjang hari hidupnya tak tentram. Tapi belakangan ia mendapat gelar baru di Zamboanga: ‘Jesus’ from Davao.
Suatu siang di ruang makan, Jhon mengusap-ngusap janggutnya. Selain John, Mohammad dan Prof. Alih S Aiyub juga berjanggut, tetapi John menang karena janggutnya paling lebat di ruangan itu. Tak dinyana, kami kedatangan tamu dari Dubai menjelang makan siang. Aku lupa nama sang tamu, tapi dia masih muda dan gagah dengan rumbai janggut kribo yang menjuntai hingga hampir sebatas pinggang.
Jhon sontak berhenti mengelus janggutnya sendiri. Saya kebetulan menoleh ke arahnya. Dia membuat gerakan lucu, seolah-olah mengkerut, dengan senyum tertahan. Kedua tangannya pura-pura menyembunyikan janggut.
“Tadi anda memang pemenang, sekarang tidak lagi karena ada yang janggutnya lebih panjang,” kata saya menggoda. Ruangan makan pun jadi riuh oleh gelak tawa teman-teman.
Selama kursus, Mohammad, temanku dari Center for Research and Inter-Religious Dialogue (CRID) menepel pada John. Karena selain aku, hanya John yang betah menjadi translator Mohammad selama kami di Zamboanga. Jika tidak berbahasa Inggeris, orang-orang bicara bahasa Cabacano atau Tagalong atau campuran ketiga-tiganya. Tentu saja Mohammad bengong.
“Disini anda bisa berdialog dengan hati,” kata Father Sebastiano De’Ambra, PIME, menghibur Mohammad suatu hari. De’Ambra adalah pendiri Silsilah.
Jika aku tiada, John atomatis menjadi teman ngoborol Mohammad walau kadang tak nyambung sepenuhnya. Maklumlah, walau serumpun tapi bahasa Malaysia dan Indonesia juga banyak perbedaan. Terkadang aku tertawa geli saat keduanya bercakap-cakap.
“Bila awak nak mulakan, activity?”
“Itu tidak masalah, dialog Kristen-Islam sudah selesai sejak abad ke 17”.
“Hmm……, maksud awak?”
Aku terpaksa turut campur karena dialognya jauh pangang jauh dari api. Untungnya aku juga bisa berbahasa Malaysia.
Suatu malam usai kelas bubar, kami ngumpul-ngumpul di kantin, menggelar farewell party. Ada yang bikin minuman buah-buahan—gin tonic. John buru-buru menghampiri Mohammad.
“Ustadz, jangan minum, itu mengandung alkohol”.
Mohammad mengucap Alhamdulillah. Aku terkesan. Karena itu lebih dari 20 kali aku menjempretnya selama sepekan pertemanan kami. Beberapa close up. Photo itu cepat beredar dari tangan ke tangan. Bukan karena John tampan, tetapi karena photo itu rada-rada mirip aktor yang memerankan tokoh Jesus dalam film The Passion of The Christ yang dibuat oleh Mel Gibson tahun 2004 lalu.
“Is he Jesus from Nazaret?”
Seorang peserta kursus mengira aku me-reproduce gambar Jesus dari Kalender.
No, He is Brother John, Jesus from Davao…,” selorohku.
***
Suatu hari kami diberi tugas membuat presentasi. Kali ini giliran Brother Mouyeke Misere Tiburce Barbeault, CSCh. Lidah melayu pasti keriting menyebut nama lengkap calon pastor yang satu ini. Supaya gampang, kami memanggilnya Bro Tib saja. Aku berbisik kepada John.
Bro, bagaimana supaya Bro Tib berhenti becakap?”
“You cuba tepuk tangan saja, mesti dia stop”.
Aku bertepuk tangan. Mula-mula cuma seorang saja yang ikut. Selanjutnya dua, lalu tiga, empat dan akhirnya 46 peserta kursus di ruangan itu hampir semuanya bertepuk tangan. Lelaki hitam gempal, tinggi besar yang tadi meledak-ledak di mimbar itu mendadak berhenti seperti video player yang ditekan tombol pause. Dia nyengir kuda, mungkin jengkel tapi buru-buru menutup presentasinya.
“Thank you, thank you….”.
Ruangan geger lagi. Mereka seakan setuju Tib mempercepat presentasinya. Tib dari Kongo, Afrika. Seperti John dia juga seminarian tengah mondok di Davao City.
Di luar cuaca agak mendung. Sedangkan udara panas luar biasa. Tapi bunga-bunga yang ditanam Mother Earth tetap mekar mewangi. Aku mengintip ke luar jendela. Hari ini aku benar-benar senang sekali menjadi bagian dari keberagaman.
Kami memang bak bunga-bunga. Warnanya bermacam-macam. Baik latar belakang, agama, warna kulit hingga asal negara. Ada calon pastor seperti John, ada pendeta, pekerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Dosen, Suster, peneliti, jurnalis, mahasiswa, bencong hingga ibu rumah tangga. Seluruhnya berasal dari 9 negara. Selain dua negara yang disebutkan tadi, ada peserta dari Vietnam, Thailand, Guatemala, Tanzania, Singapura dan Indonesia. Philipina tuan rumahnya sekaligus penyelenggara kelas internasional ini. (Publish in Borneo Tribune, 2 Juni 2009)

WAJAH
Photo Close Up ini sempat dikira gambar Jesus di almanak yang aku repro ulang dengan kamera. Gara-gara photo ini, John mendapat julukan khusus di kelas Intensive Program, Silsilah awal pekan lalu. FOTO A. Alexander Mering/Borneo Tribune

Filed under: Philipina, Story, Umum

 

February 2010
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Top Posts

    Blog Stats

    • 820 hits

    Tags

    RSS Alexander Mering

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.