> by Wisnu Pamungkas Waktu adalah sebungkus kado yang dilemparkan dari atas truk oleh seorang jahanam, di suatu sore temaram, usai gerimis dan sisa lembab di bibir semesta Waktu adalah biji jawawut di paruh burung yang melesat ke angkasa, menuju ke suatu tempat, di suatu waktu yang lengang, entah kapan dan dimana Waktu adalah portal… [Read more…]
> Aku ini cuma suara parau orang sakit, cuma tangan gelandangan yang lancang tertadah kepada yang kalian sebut belaskasihan. Tentu saja ini tidak penting, dibandingkan seseorang yang hari ini memang harus engkau bahagiakan. Sekali lagi, aku ingin meminta maaf, karena telah menyangka janji adalah sesuatu yang layak dipegang dan dinantikan, sedangkan aku bukan sesiapa, di… [Read more…]
>Natal kali ini pun ayah tidak bisa pulang. Mungkin ia terlalu sibuk berperang dan bergerilia, menuruni ngarai, melintasi bukit dan hutan belantara. Atau mungkin saja ia sudah mati dalam pengembaraannya di peta buta. Karena tiada yang benar-benar pernah bertemu ayah sejak setahun lalu. Seperti tak satu pun diantara kami anaknya, tahu apa pekerjaan ayah sebenarnya.… [Read more…]
> Natal kali ini pun ayah tidak bisa pulang. Mungkin ia terlalu sibuk berperang dan bergerilia, menuruni ngarai, melintasi bukit dan hutan belantara. Atau mungkin saja ia sudah mati dalam pengembaraannya di peta buta. Karena tiada yang benar-benar pernah bertemu ayah sejak setahun lalu. Seperti tak satu pun diantara kami anaknya, tahu apa pekerjaan ayah… [Read more…]
> Aku masih sangat muda ketika ayah mengangkat senjata. Ketika labirin kebencian menganga dan ayah meninggalkan kampung dengan gagahnya, menuju sebuah kota di negeri dongeng. Tak ada yang memberitahu ibu kalau ayah seminggu kemudian telah menikahi sepasukan Gegana*) yang menjinakkan ranjau dengan kelaminnya. Sebagai prajurit, ayah sungguh luar biasa. Karena itu, menurut kisah, tidak ada… [Read more…]
>Ayah kini sudah porak poranda, Sejak kami memberontak dan mulai berkemah di kelaminnya, ibu pun semakin sibuk membuat kebun bunga, setiap pagi menyiramnya dengan minyak tanah Sebelum anak-anak ke sekolah dan memetik ganja Ayah tahu kini hidupnya teramat sengsara, (by Wisnu Pamungkas)Pontianak, 1 Desember 2010 Dari pada kami menghabiskan energy untuk melawan, lebih baik kami… [Read more…]
> by A. Alexander MeringKawan, seperti juga engkau, aku harus menemukan jalanku, walau sejujurnya aku tidak tahu harus kemana. Tak perlu kau katakan lagi padaku betapa sudah banyak orang di dunia ini berusaha, tetapi bahkan sampai mati pun ada yang tidak menemukan apa-apa.Aku bukanlah orang yang putus asa dan ingin lari. Aku hanya ingin mengatakan… [Read more…]
by A. Alexander MeringKawan, seperti juga engkau, aku harus menemukan jalanku, walau sejujurnya aku tidak tahu harus kemana. Tak perlu kau katakan lagi padaku betapa sudah banyak orang di dunia ini berusaha, tetapi bahkan sampai mati pun ada yang tidak menemukan apa-apa.Aku bukanlah orang yang putus asa dan ingin lari. Aku hanya ingin mengatakan padamu… [Read more…]
> by A. Alexander MeringI am leaving this place, leaving you and everyone who are trying to find a piece of history at every nook and cranny. I am leaving, not because I am a coward, but this is the way for me to seek adventures, freedom and a place for my future. I am… [Read more…]
by A. Alexander MeringI am leaving this place, leaving you and everyone who are trying to find a piece of history at every nook and cranny. I am leaving, not because I am a coward, but this is the way for me to seek adventures, freedom and a place for my future. I am leaving,… [Read more…]
February 9, 2011
by mering
0