by: Wisnu Pamungkas Yang pasti segala sesuatunya teramat menyakitkan. Kamu jauh dari jangkauanku, aku kehilangan pengetahuan tentang kamu saat ini. Apa yang telah terjadi barangkali rumit untuk dijelaskan.Hanya rasa duka, perih yang menombak seluruh isi dada. Aku telah melakukan segalanya untuk kamu. Aku berpuasa setiap hari, aku mengendorkan semua hasrat dan keinginan, melepaskan sedikit cengkraman… [Read more…]
by: Wisnu Pamungkas Natal bagi Ayah adalah awan yang berbalik dan menumpahkan hujan,Agin yang berbisik tentang ketulusan langitBumi yang pelit kasih sayang Natal bagi ayah adalah SMS yang salahEmail yang dikirim kepada Bunda AllahSerta segurat catatan kebohongan tentang sebuah risalah perkawinan Natal bagi ayah adalah mentega mentahHiruk pikuk dan rasa bersalah Korek 25 Desember 2002
Rindu,. Kukira dapat membebaskan diri dari cengraman rindu ini, Malah ia menariku ke arahmu. Kukira dapat berlari dari bayanganmu itu, malah ia mengekoriku kemana sajaKukira aku sudah tidak siuman lagi, malah kutersenyum sepanjang masaSang rindu. Jika kau berada disana, bersama temanku itu, Titipkan padanya rasa kangen ini yang tak bisa kulunturkan dari jiwaMalah ia semakin… [Read more…]
by: Wisnu Pamungkas Orang yang berbahagia adalah mereka yang menemukan jalan pulang
Cerpen: Wisnu Pamungkas Aku hidup dalam pengecualian. Terlahir untuk melarung, walau tanpa secarik pun peta kebahagiaan. Ayahku adalah keniscayaan seorang manusia. Ide tentang kebebasan dari sebuah tempat yang disebut surga1). Tapi yang hingga sekarang tak aku fahami adalah mengapa ia harus membunuh untuk mencapai kesempurnaan hidup. Kabarnya ibuku adalah sepenggal dongeng dari kitab mitos kehidupan.… [Read more…]
by: Wisnu Pamungkas Ayah sangat ramah pada kematianbahkan ia mentraktirnya dengan sebotol bear sebelum mereka berpisah di ujung jalanberkali-kali ayah memberi salam perpisahanwalau ia tahu maut tak mungkin dielakkan 25 Januari 2006
by: Wisnu Pamungkas Ayah sendiri di terminal udaramancari bahasa cinta Dia adalah lelaki yang gagal menjaga bumi sedangkan anak-anak terus menyeruak,menggambar malaikat dengan sindikat menciptakan teman dari Supermanayah termanggu, merumuskan makna rinduMenelusuri jejak-jejak perkawinan di tong sampah Sejak saat itu ayah pasrah, Ia selalu dihantui rasa bersalah yang luar biasa Di perjalanan tanah merah, 24… [Read more…]
by: Wisnu Pamungkas aku tak yakin keadaan begitu baik setelah beratus-ratus kali kami terbanting-banting ke kiri dan ke kanan. Bahkan supir sepertinya pun harus berdoa sebelum nenekan pedal gas untuk kesekian kalinya di tanjakan yang di kiri kanannya hanya jurang.
by : Wisnu Pamungkas Lebaran tahun ini, jangan kau cemasBerbuket-buket bunga mawar yang kukirim sebagai kata maaf Tak akan pernah layu sebelum sampai ke tanganmuWalau pun engkau sedang di sebuah pulau tak dikenalBunga ini pasti datang padamuAsal kau SMS-kan e-mail terakhirmu yang masih aktif 24 November 2005
by: Wisnu Pamungkas Apakah pulsa telah mengajarimu menangis, lewat pesan pendek yang dikirim kekasih?“Cintaku, ini adalah pesan penghabisan, sebelum isi kepala ini kuledakan dengan moncong senapan…,” Apakah SMS mengajarimu terbang? Ketika Tuhan meminjamkan sepasang sayap malaikat untuk dapat menghentikan kematian? Memesan satu paket bahagia hemat dari surga dan mengirimkannya ke pada seorang teman?Apakah SMS juga… [Read more…]
August 25, 2009 by mering
0